Senin, 01 Desember 2025

TUHAN

 

Tuhan dalam barisan kata

Ialah makna dalam goresan

Bunyi dalam lafal

Syair dalam sajak

 

Maka dalam kata-kata aku merasa

Dalam senandung aku menari

Seiring dengan awan yang berarak

Dan bersama angin kulangkahkan kakiku

 

Tuhan dalam kata-kata

Biar Ia memenuhi benak

Dan meluap dalam barisan puisi


––––––––––––––––––––––––––––––––––––––

– Christnadi, menemukan kembali puisi yang ditulis 29 Juni 2018.

Harapan

 

H ening menanti

A nugerah Ilahi

R esahpun menghadang

A ntarkan gelisah dan kawatir

P ercaya datang melawan

A jarkan tetap tegar melangkah

N ikmati Kasih Karunia Ilahi

 

Sepanjang masih tersisa nafas

Tetaplah Semangaat raih Harapan

Karena Harapan tidak mengecewakan

Namun membawa kekuatan dalam tiap kelemahan


––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––

– Irma Siregar, membalas dengan puisi, setelah tergelitik dengan puisi saya di Warta Jemaat GKI Peterongan, 30 Desember 2025 yang berjudul "Piala Harapan". Terima kasih bu Irma, semangat selalu menyusun kata dalam barisan penuh makna!

Piala Harapan

 

Dalam sebuah gelanggang

Si Kuat, Si Mempesona,

Si Pintar, Si Cerdas,

Si Gigih, dan Si Gagah beradu

Si Lemah mengaduh

Karena hanya ada satu Harapan

Sisanya pasti halu berangan-angan

 

Saling serang silang pukul

Geruduk bergelut dalam gulat

Si Lemah rebah terinjak-injak

Sampai peluit panjang menjerit

Tak ada jawara yang juara

 

Sang Empu yang empunya lomba

Memberikan Harapan satu-satunya pada Si Lemah

 

Supaya yang rebut-ributkan Harapan sadar

Harapan tidak perlu dirampas dari orang lain

Kalau Si Lemah saja dapat Harapan

Maka semua berhak Berpengharapan


————————————————————————

–  Christnadi, sebuah puisi untuk mengisi renungan Warta Jemaat GKI Peterongan, menyesuaikan dengan tema dan bacaan Alkitab dalam Kebaktian Minggu 30 November 2025 “Apakah Harapan Untuk Semua Orang"

Raja Ini

 

Raja ini tercenung berhadapan kolom kosong

Kala mengisi formulir kehidupan

Satu kolom yang bertuliskan “pekerjaan”

 

Mau dituliskan: Raja

Tapi kolom itu menolak

 

Kolom itu tidak bisa

ditundukkan dengan janji palsu

ditaklukkan dengan ancaman

disuap dengan bagi-bagi jatah upeti

 

Dahi Raja ini terus mengulang tanya,

“Kalau Raja bukan kerja,

Apa pekerjaanku?”

 

Mau ditulis

“Pelindung”, tapi merampok rakyat sendiri

“Penjaga”, tapi buka pintu malapetaka 

“Pemimpin”, tapi rakyatnya tercerai berai

 

Mungkin,

“Penggembala”, tapi kok cari kambing hitam

“Pengampun”, tapi ya bobroknya minta ampun

“Penolong”, tapi seringnya bikin rakyat menjerit “tolong.. tolong..!”

 

Formulir yang kritis itu dirobek

Ia terlalu berisik

Tidak seperti mahkota dan singgasana

Yang diam dan menerima saja


––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––

– Christnadi, sebuah puisi yang disertakan dalam khotbah untuk Kebaktian Minggu Kristus Raja, 23 November 2025, menjadi kontras dari puisi "Raja Itu".

Raja Itu

 

Raja itu menaruh mahkota

di bawah kaki-Nya

Dan palang kotor 

dijadikan sandaran kepala

 

RAJA itu terbalik 

supaya menjadi AJAR

Agar rakyat-Nya wajar belajar

 

Kalau mau menggapai puncak

Kerajaan Surga

Turunlah sampai ke dasar

Kerajaan Maut

 

Tahta-Nya menjulang di Bukit Tengkorak

Dalam singgasana-Nya Ia bersemayam

Salib lusuh berhiaskan darah suci berkilau

 

Kalau lihat tangan-Nya, terpakulah

Keduanya terentang bukan menantang

Seperti gembala yang memanggil pulang

Kawanan domba jingkrak dan kambing hitam

yang berjalan terseok-seok di belakang


––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––

– Christnadi, sebuah puisi untuk mengisi renungan Warta Jemaat GKI Peterongan, menyesuaikan dengan tema dan keempat bacaan leksionari dalam Kebaktian Minggu Kristus Raja 23 November 2025 “Sang Raja, Sang Gembala", sekaligus disertakan dalam khotbah minggu dalam kebaktian tersebut juga.

Jumat, 14 November 2025

Tegak Berdiri Di Sisi

 

Impian

Masa depan

Andai menjauh

Nyatanya lenyap

Yang sedikit-sedikit

Ah tak pernah jadi bukit

Nasib tulis surat pada takdir

Gagal bercerita kabar sukacipta

Tak buat suka, tak buahkan cipta

Eh malah terus melongsor berguguran

Godaan merayu meneteskan gula di kala sayu

Untunglah Kalam mendayu, menghenyak ragu

Hantarkan diri terpancang kokoh sepanjang selalu


————————————————————————

–  Christnadi, sebuah puisi kontur dengan tipografi visual untuk mengisi renungan Warta Jemaat GKI Peterongan, menyesuaikan dengan tema dan keempat bacaan leksionari dalam Kebaktian Minggu 16 November 2025 “Iman yang Teguh, Tak Bergoncang"

Jumat, 07 November 2025

Telepon Surga

 

Surga memasang perangkat telepon baru,

bersanding dengan jalur doa yang mulai sepi pelanggan.

Kringgg!! Telepon pertama masuk.

Tuhan angkat, “Halo?”

 

“Halo? Wah, saya bisa dengar Tuhan menyapa!

Langsung saja ya Tuhan,

Saya ingin ini dan itu lengkap dengan itu dan ininya,

Saya mau naik pangkat, naik gaji, naik segalanya

seperti janji-Mu, terus naik dan bukan turun.

Tolong jangan buat saya susah, ya Tuhan,

Berikan saya hidup tenang, hidup kenyang, itu saja.

... eh kok Tuhan diam?

Sama seperti di jalur doa, Tuhan nggak ngomong apa-apa.”

 

“Ya, karena selama ini kamu tidak bertanya,” jawab Tuhan.

“Bertanyalah, Aku pasti menjawab.”

“Oh begitu, kalau begitu aku mau tanya: apakah dia jodohku, Tuhan?

Kalau jodoh kok hubungan kami sulit dijalani?”

“Ya, sulit karena tidak semua berjalan sesuai pikirmu, kan?

Lagipula setiap hubungan pasti ada tantangan, itulah hidup.”

“Kok begitu, Tuhan? Apa nggak bisa jalan kami mulus-mulus saja?”

“Yang mulus belum tentu selamat, yang terlihat lurus bisa ujungnya maut.”

“Kok serem, Tuhan? Ini Tuhan atau AI yang jawab?”

 

Dalam kesabaran tiada tara Tuhan menjawab,

“Justru karena Aku Tuhan yang Hidup,

maka Aku bisa menjawab yang berbeda dari yang kamu pikirkan.

Sebaliknya, apa kamu betul-betul hidup, seperti Aku?

Kok, jawabanmu untuk semua masalah selalu sama:

putus asa, putus relasi, berhenti bergumul, berhenti beriman?”


————————————————————————

–  Christnadi, puisi untuk mengisi renungan Warta Jemaat GKI Peterongan, menyesuaikan dengan tema dan keempat bacaan leksionari dalam Kebaktian Minggu 9 November 2025 “Percaya pada Allah yang Hidup"

Sabtu, 01 November 2025

Ibadah yang Jahat

 

Semua berbondong boyong

Mengikuti titinada ajakan penuntun langkah

datanglah ke Bait-Nya dengan hati bersuka

Sedang Yang Empunya Bait hatinya bersusah

Karena yang dipanjat ramai-ramai

bukan tangga “kerinduan”

tapi tangga sosial

dengan ritual demi ritual jadi pijakan

bersama mulut berhias “Haleluya” “Puji Tuhan”

 

Sang Tuan yang Maha Menanggung Segala Sesuatu

pun tidak tahan melihat ibadah penuh kejahatan:

“Festival Kemunafikan”

 

Yang isi perayaannya:

meninggikan diri dalam doa ucapan syukur

minim empati saat menceritakan kesaksian

mengatakan ini itu sesat sambil membenarkan diri

 

Padahal Bait Kasih-Nya terbuka lapang

Ruang Maha Akrabnya menanti dikunjungi

Oleh insan yang lelah nyaris menyerah

berjibaku lawan dosa dan kegagalannya

 

Bagi mereka, tangan-Nya berperkara,

“Sekalipun dosamu merah, akan putih jua!”

Maka jadilah mereka beribadah dalam peluk-Nya.


–––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––

— Christnadi, puisi hasil refleksi terhadap Yesaya 1:10-18 dan Lukas 18:9-14 untuk mengisi renungan Warta Jemaat GKI Peterongan, menyesuaikan dengan tema Kebaktian Minggu, 2 November 2025 “Dilayakkan untuk Menerima Kasih Ilahi"

Kamis, 23 Oktober 2025

Doa di Natal yang Indah

 

Bapa, terima kasih untuk Natal yang terindah yang kami rasakan saat ini.

Bukan karena segala sesuatunya sempurna dan hidup kami bebas dari masalah.


Justru karena saat ini kami sedang bergumul hebat, 

tetapi kami dapat tetap merasakan kehadiran-Mu di antara kami.


Justru karena saat ini ada begitu banyak air mata yang menetes, 

tetapi kami masih mampu mendengar Yesus Sang Bayi Kudus menangis bersama-sama dengan kami.


Justru karena saat ini kami sedang merasa tertekan, terpuruk, dan direndahkan,

tetapi kami masih dapat bersimpuh dekat palungan Tuhan, menyaksikan Sang Raja mengambil tempat terendah, hanya karena kasih-Nya bagi kami.


Justru karena pada Natal ini masih ada begitu banyak hal yang belum tuntas, masih banyak perasaan yang mengganjal, masih banyak hal yang mengganggu pikiran kami,


tetapi kami masih bisa merasakan damai, bisa mendapatkan ketentraman batin yang tidak terkatakan…


Bukankah semua ini indah, ya Bapa?


Maka biarkan keindahan itu tetap tinggal dalam diri kami, biarkan kehidupan yang Bapa anugerahkan ini kami jalani bersama Tuhan Yesus, Allah yang menjadi Manusia, Allah yang beserta kami. Yang mengerti bahkan merasakan pergumulan kami.


Supaya kami menjadi berani, tidak takut lagi untuk menjalani hidup kami sekarang dan seterusnya, serta mengiringi setiap langkahnya dengan ungkapan syukur. 


Dan kami terus berjejak dalam rencana-Mu, menyadari bagaimana hidup kami terletak dalam rancangan besar karya keselamatan Allah yang agung dan mulia itu.


Terima kasih Bapa untuk hari Natal,

terima kasih untuk Yesus Kristus yang masuk dalam kehidupan kami,


Suatu kemustahilan yang indah yang terlaksana,

yang dalam nama-Nya kami berdoa,

Amin.


----------------------------------------------------------------

— Christnadi, sebuah narasi doa yang dipanjatkan menjadi doa Natal pada Kebaktian Malam Natal GKI Peterongan Semarang 24 Desember 2024 pk. 20.00.

Selasa, 21 Oktober 2025

TIADA TUAN SELAIN EGO

 


Tak perlu dinilai orang, akulah yang benar.

Inikah artinya tak ada yang benar sepertiku?

Ada, hanya mereka yang aku setujui.

Dengan demikian, yang berbeda berarti salah.

Apapun perkataannya: tidak tepat!

 

Tujuan hidupku adalah keinginanku.

Untuk apa berpikir tentang kepentingan yang lain?

Apakah ada untungnya buatku?

Nanti kalau tujuanku tercapai, barulah!

 

Siapakah yang berani mendiamkanku?

Entah kemarin, hari ini, atau besok.

Lantunan kata-kataku harus jadi nyanyian,

Alunan melodi yang mendikte setiap telinga.

Ingin sebenarnya aku jujur, “Kalian tidak penting!”

Namun biarlah mereka sadar dengan sendirinya.

 

Egoku menuntunku sampai di puncak.

Gemuruh semesta menyorakkan namaku.

Oh diriku, aku bangga padaku!


-------------------------------------------------------

— Christnadi, puisi untuk mengisi renungan Warta Jemaat GKI Peterongan, menyesuaikan dengan tema Kebaktian Minggu Prapaskah IV 30 Maret 2025 “Batu Keegoisan”

Kebeblasan


Inilah kebebasan!

Parkir di hadapan kalimat: “Dilarang parkir di sini”

Mencecerkan sampah di depan tulisan: “Jangan buang sampah sembarangan”

Teriak sekuat-kuatnya kala membaca anjuran: “Harap tenang”

 

Inilah kebebasan!

Rajin berdosa karena sudah pasti masuk sorga

Ikut Tuhan hanya cari berkat, harkat, pangkat, hebat

Pantang “Amin” sebelum Tuhan jawab “Ya”

 

Itukah kebebasan?

Itulah kebablasan!

 

Merasa lebih benar daripada Kebenaran

Merasa lebih tahu daripada ketahuan

Menutupi dosa dengan wajah pasrah

Menolak salah malah olah istilah

 

Sangkanya mereka bebas

Ternyata jadi bablas

Diberi otak malah memberontak

Diberi detak malah melanggar jejak

 

Maka untuk mereka yang ingin bebas

Diberi kebebasan sebebas-bebasnya

Menikmati hukuman sekekal-kekalnya


-------------------------------------------

— Christnadi, puisi untuk mengisi renungan Warta Jemaat GKI Peterongan, menyesuaikan dengan tema Kebaktian Minggu Prapaskah III 23 Maret 2025 “Batu Pemberontakan”

Ragu Mau Nulis Judul Apa

 


Aku hendak menggubah sebuah syair

tapi aku ragu apakah aku harus melakukannya?

Waktuku tak banyak, lembar putih ini harus tercoreng

Tapi apakah aku bisa menyusunnya:

Kata demi kata, kian demi kian?

 

Aku ragu, karena menguntai kata tak sukar

Tapi mudah merajut makna? Aku ingkar

Bagai nama hendak diberi

Bagaimana aku membuatnya jadi?

 

Aku ragu kalau syair itu berbunyi

kalimat baris berbaris tiada berkhidmat

pesan moral berbalik menyerangku sendiri

sang empu yang tak empunya hikmat

 

Aku ragu harus memulai dengan apa

dan mengakhirnya dengan apa

Aku ragu mengisi ruang hampa di tengah-tengah

mengakali spasi yang tak boleh berderet dua

 

Aku terdiam ragu

Aku bahkan ragu apakah aku harus terdiam

Maka dalam diam aku meragukan aku yang terdiam

 

Keraguanku menyeretku dari baris pertama sampai di titik ini.

 

... tetapi tidak membawaku ke mana-mana. 


--------------------------------------------

— Christnadi, puisi untuk mengisi renungan Warta Jemaat GKI Peterongan, menyesuaikan dengan tema Kebaktian Minggu Prapaskah II 16 Maret 2025 “Batu Keraguan”

Dicobai Pencobaan

 


Walau aku bukan kue atau roti

dan bukan jajanan pasar yang dijejer dijaja

Satu per satu per satu per satu

datang mencobai

 

Mulanya Kemiskinan datang

menjajal seberapa kuat mulut ini terkatup tidak mengumpat

dan tidak mengutuk Yang Di Atas

kala kucuran-Nya tak terasa oleh yang di bawah

 

Tak lama Kekayaan menghampiri

icip-icip keteguhan diri yang pelan-pelan bergeser

memberi ruang bagi Si Angkuh yang tangguh

merombak-robek standar moral-moril

 

Lalu Kekuasaan mendekat

mencecap integritas sampai di tapal batas

menawarkan tahta pantang lengser

dengan janji pantang ditepati

 

Dan yang lain menyelak

Susah dan senang berebut mencobai

Khalik mendelik insan hampir pingsan

Tangan-Nya menyentuh kaki

menguatkan lutut supaya tak bertelut:

diri berani berdiri meski sendiri dicobai

 

Tuhan sayang

Aku tenang

Kami menang


-------------------------------------------

— Christnadi, puisi untuk mengisi renungan Warta Jemaat GKI Peterongan, menyesuaikan dengan tema Kebaktian Minggu Prapaskah I 9 Maret 2025 “Batu Pencobaan”