Tampilkan postingan dengan label From My Heart. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label From My Heart. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Desember 2025

TUHAN

 

Tuhan dalam barisan kata

Ialah makna dalam goresan

Bunyi dalam lafal

Syair dalam sajak

 

Maka dalam kata-kata aku merasa

Dalam senandung aku menari

Seiring dengan awan yang berarak

Dan bersama angin kulangkahkan kakiku

 

Tuhan dalam kata-kata

Biar Ia memenuhi benak

Dan meluap dalam barisan puisi


––––––––––––––––––––––––––––––––––––––

– Christnadi, menemukan kembali puisi yang ditulis 29 Juni 2018.

Selasa, 21 Oktober 2025

Gebu Rindu

 

Biasanya

cinta tumbuh karena terbiasa

Lalu layu kala semakin terbiasa


Karena rindu

tak selalu mencari temu

Nafsu menggebu

kala melihat dari jauh


------------------------------------------

— Christnadi, 4 Juni 2024, digubah kala merenungkan kisah Nehemia, terutama ketika Nehemia bersama Ezra membacakan Taurat dan seluruh umat menangis. Namun ternyata, setelahnya ada antiklimaks yang menyedihkan.

Selamat Jalan Joko Pinurbo


Tak tampak lagi celotehmu

Berderet rapi mengiring masa

Tapi gema menggantikanmu

Dalam tiap kalimat berujung rima

Yang telah menyesap indahmu

Meniru lenggak lenggok syairmu

Berguru pada namamu


Kalau sudah sampai di sana

Gubah satu lagi untuk Sang Sabda

Dan tuturkan di depan sumringah-Nya

Di sepanjang jalan menuju kekekalan


-------------------------------------

— Christnadi, 27 April 2024, satu puisi sederhana untuk pujangga yang gaya berpuisinya telah kupinjam belakangan ini.

Menggereja Pasca Pandemi

 

Pagi pagi Pak Tua menunggu

Ia memegang counter di tangan

Berdiri dengan tidak sabar di pintu gereja

Seperti virus, banyak orang ikut tidak sabar

Melihat pak Tua masih terus menunggu


Ayolah! Kata temannya siap menggulung debu dari atas bangku

Jangan dulu! Hardik pak Tua

Lonceng pun bergetar mendengar pak Tua

Tak berani ia berdentang


Satu per satu kaki sudah melangkah

Beberapa wajah bermunculan

Tapi counter di tangan hanya terdiam

Empat digit angka nol belum beranjak dari tempatnya


Pak Tua masih memandang jauh-jauh

Menatap marka jalan yang terpampang jelas

Berjajar sampai di depan lampu perempatan


Koster bertanya

Apa yang kau tunggu pak Tua?

Bosku sudah hadir

Boksu juga sudah ada

Apa lagi yang kau tunggu pak Tua?


Pak Tua menjawab lirih

Ternyata ia menunggu rombongan netizen

Yang katanya siap untuk kembali

Kala pandemi sudah berakhir


Pupus sudah asa

Yang dikobarkan dalam rapat kemarin

Layaknya nabi Pak Tua bernubuat

Dalam sajak tiga baris ia berkata:


“Pandemi pergi

Situasi kembali

Kursi-kursi terisi”


Kalau semua rima berujung manis

Dapat menjadi mantra penangkal tangis

Mungkin para nakes lekas beralih profesi

jadi penyair supaya epos tak berakhir tragis


…


Pak Tua lupa

Cerita dulu kala sekolah minggu

Yang perlu dituturkan menggunakan alat peraga

Karena cerita itu bukan tentang Yusuf, 

bukan tentang Yunus, 

ataupun Yudas


Tapi cerita itu tentang Yeremia

Nabi yang ceritanya tak seriang kakak-kakak sekolah minggu saat bernyanyi happy ya ya ya


Kala nabi lain menata mimpi di siang bolong

Mengajak Yehuda meniti omong kosong

Yeremia menghentak,

Menghardik mereka yang bohong

Yang dengan berani 

menggubah sajak yang lain

Mengubah bait demi bait sajak punya Sang Empunya


Bunyinya:


Babel pergi

Sion berpulih

Orang-orang kembali


Mendengar sajak yang baru

Dalam rima yang kurang sempurna

Yeremia hanya bisa berujar, moga-moga!


Karena Yerusalem 

tak akan pernah sama lagi

Mereka yang dibawa pergi 

Hanya akan dibawa pulang ke hari esok

Menyapa reruntuhan

Menjumpai Sion yang tidak berbentuk dan kosong

Dan asa melayang-layang di udara


Andai Pak Tua ingat cerita ini

Mungkin ia jadi tahu

Kalau gereja bisa jadi tidak akan kembali pada situasi yang sama

Pada kejayaan yang sama

Yang kisahnya selalu diungkit di rapat-rapat


Gereja bisa jadi sedang dibawa pulang ke hari esok

Menyapa umat yang tidak berbentuk dan kursi-kursi yang kosong

Dan sapaan gembala melayang-layang di udara


…


Lonceng gereja akhirnya berdentang

Bergema seperti bel di stasiun

Tanda kereta siap diberangkatkan


Yang pulang dan yang pergi menjejali gerbong yang sama

Satu dengan yang lain saling menyapa:

Mau pergi ke mana? Pulang!

Mau pulang ke mana? Pergi!

Dan gereja pun bergerak maju

Menuju pemberhentian berikutnya


Minggu depan kalau lonceng itu berdentang lagi,

Gereja bergerak maju selangkah lagi,

Berpulih walau tak pernah sama lagi.


Bersandar pada Yang Paling Tahu

tentang apa yang menanti di hadapan.


Kata-Nya:

Yang menanti ialah hari depan yang penuh harapan,

Karena rancangan-Nya adalah rancangan damai sejahtera.


Di situ Pak Tua berkata, “Amin!”


---------------------------------------------------------------

— Christnadi, 7 September 2022


Puisi ini kubawakan sebagai khotbah dalam Ibadah Pembuka Persidangan XV MSW GKI Sinode Wilayah Jawa Tengah. Iseng mencoba berpuisi panjang sebagai pengganti khotbah. Alhasil khotbah dibawakan hanya dalam 5 menit saja. Mencoba gaya puisi yang lain: kalau dulu remaja menggemari gaya puisi Jenny Jusuf, lalu ditekuni ke arah yang mendayu-dayu dan mellow, sekarang terinspirasi dari gaya berpuisi Joko Pinurbo.

Senin, 20 Oktober 2025

Sosial Terbatas


Pembatasan sosial apapun bentuknya:

Physical distancing, work from home, karantina wilayah

Seharusnya membuat orang makin mengerti empati

Tetapi kok malah membuat orang lupa bagaimana caranya berelasi

 

Mengubah umat yang menyembah, teman yang karib, warga yang berkontribusi,

Menjadi netizen yang aktif, dengan jari jemari yang lihai menari-nari

Bersuara, tapi tak berbunyi

 

Terlalu banyak kata-kata, sedikit interaksi

Terlalu banyak kata-kata, sedikit belas kasih

Wahai pujangga bisakah dikurangi?

Buang beberapa yang tidak perlu

Dan biar deret kata berakhir rima

Menjadi sajak yang penuh makna

 

Kalau COVID berlalu dan kita semua boleh bebas bertemu

Semoga kita masih ingat bagaimana caranya:

memberi senyuman hangat, berjabat erat, menggandeng sahabat

Karena sudah terlalu lama virus ini membuat banyak orang sakit:

Kepala panas, hati dingin, mulut terbatuk-batuk sebagai tanda: saatnya mengutuk

 

Tuhan, adakah yang tahan?

Berikanlah kesembuhan!


--------------------------------------

— Christnadi, 12 April 2020

Senin, 18 Maret 2019

Yang Berjalan Seorang Diri



Lihatlah, Yesus berjalan seorang diri.
Ia memikul salib-Nya seorang diri.

Dengan luka dan lebam
di sekujur tubuh-Nya,
Ia melangkah sendirian.

Tidak ada orang di kiri.
Tidak ada orang di kanan.
Tidak ada Simon dari Kirene.
Tidak ada yang menangisi-Nya
atau yang melihat-Nya dari kejauhan.
Tidak ada yang berteriak-teriak tidak karuan,
“Salibkan Dia! Salibkan Dia!”

Yang ada hanya keheningan,
serta peluh dan air mata-Nya sendiri.

TIDAK!
Tidak seperti itu yang terjadi di sana!
Jalan menuju Golgota begitu ramai,
orang berdesakan di sana sini.
Riuh! Ricuh!

Simon dari Kirene ada di sana,
dan ia ikut dipaksa memikul salib.

Lalu terdengar di sana isak tangis,
di sini teriakan beringas memekakan telinga.
“Salibkan Dia! Salibkan Dia! Salibkan Dia!”

...

Tapi lihatlah,
hari-hari sekarang,

Yesus memang berjalan seorang diri.
Sepi, sendiri,
memikul salib-Nya seorang diri.

Dengan luka dan lebam
di sekujur tubuh-Nya,
Ia melangkah sendirian.

Tidak ada orang di kiri.
Tidak ada orang di kanan.

Tidak ada lagi
yang melihat akan penderitaan Yesus.
Tidak ada lagi
yang tertunduk dalam penyesalan.
Karena memandang Yesus
yang tak berdosa
tetapi menanggung hukuman
mereka yang berdosa.

Tidak ada lagi. Tidak ada lagi.

Dan tubuh yang tergantung di kayu salib,
tidak lagi mencuri perhatian segenap insan.

Dia wafat dalam hening.

...

Sementara dunia menjadi begitu ribut.
Orang-orang saling menerkam.
Satu dan yang lain tidak mau berkorban.
Satu dan yang lain saling menyerang.

Yang sana
merasa begitu suci
Yang sini
merasa sebagai yang benar.

Orang-orang hilang tersesat,
tidak lagi dalam gelap malam,
Sebaliknya dalam terang benderang
sorot mentari di terik siang.

Karena tidak ada lagi yang menjadi panutan.
Semua enggan melihat ke sana.
Dan memperhatikan jejak-jejak darah.
Dari tubuh yang terseret
di atas kerikil-kerikil tajam.

Lebih dari kekejaman atas tubuh yang lemah,
di kayu salib tampak pengorbanan yang begitu mulia.

Lebih dari murka Sang Pemilik Kehidupan,
di palang lusuh dipertontonkan kasih yang begitu agung

Ia yang Empunya Hidup
menghembuskan nafas terakhir-Nya,
supaya yang mati mampu berjejak
dalam kehidupan yang kekal.

Maukah, berjalan dekat dengan-Nya?
Dan menengadah pada Yang Tergantung

Hingga air mata yang jatuh,
mengalir bersama deras darah-Nya.

=================================================
Christnadi, di suatu Minggu Prapaska 18 Maret 2019
(ditulis ulang dengan beberapa perubahan dari prosa yang saya buat untuk liturgi Jumat Agung Komisi Remaja GKI Gunung Sahari Jakarta, 14 April 2017)

Jumat, 01 Desember 2017

Senyap


Apakah terdengar suara? Tidak
yang kudengar hanya bisik keheningan
sunyi bercerita pada sepi
hingga menghilang dalam senyap

Tidak ada lagi suara yang berteriak di padang
tidak terdengar lagi seruan yang memanggil
Air sungai Yordan mengalir deras tanpa hambatan
bahkan gemericiknya diredam sampai diam

Mereka memilih keheningan daripada gemuruh ramai
mulut yang menegur insan dikatupkan
ia yang datang dari gurun diusir pergi

Terlalu bisingkah suara itu
hingga telinga kita memerah mendengarnya?

Atau hati ini yang menebal
pikiran ini yang menggelap
dan mata ini yang berhenti
memandang surga

Ketika suara terhenti, tidak ada yang tersakiti
tetapi tanda kehidupan bukan pada kubur yang sepi
melainkan pada tangisan bayi

=================================================
Christnadi, Desember 2017
Saat menyusun renungan untuk halaman depan Warta Jemaat GKI Peterongan dengan judul: "Pertobatan yang Proaktif"

Sabtu, 18 November 2017

Silent Night


Adakah malam itu membekas dalam ingatan?
Malam yang sama seperti malam-malam sebelumnya.
Semua terlelap, malam jadi senyap.

Tak ada yang mendengar ketika seorang membuka pintu kandang,
Memberi ruang bagi ibu untuk bersalin,
Melahirkan seorang anak lelaki,
Dalam rengkuhan hangat sang ayah.

Siapa yang dengar tangisannya?
Bayi mungil itu tak kuasa memecah keheningan malam.
Suaranya lemah, hingga terdiam.

Tertidur dalam lelap,
Dibuai dalam sepi.
Dalam cinta tanpa suara.

Saat itulah malak sorga bersiap,
Merapatkan barisan dalam senyap,
Menanti saatnya menyanyikan kabar sukacita,
Bagi gembala rendah, yang dalam diam terjaga

Juga tak perlu suara menggegap,
Pada letaknya yang tetap,
Bintang misterius muncul tanpa diketahui,
Hingga para bijak menengadah untuk menyadari.

Dalam sepi, mereka yang mencari mendapat perhentian,
Dalam senyap, mereka yang rendah dikunjungi dan beroleh harapan
Dalam hening, mereka yang bijak melihat terang hikmat menyala di antara gugusan bintang-bintang

Adakah malam itu membekas dalam ingatan?
Malam yang sunyi, saat Sang Anak dilahirkan.
Sebelum semua jadi ramai:
nyanyian menggegap, derap langkah para bijak menyusuri jalan, hingga membangunkan penguasa yang lalim,

Anak Manusia hadir tanpa ada yang tahu.
Ia tersembunyi dalam wadah pakan ternak,
Saat semua terlelap dalam gelap malam.

Adakah malam itu kau rasakan saat ini?
Sebelum semua jadi gegap gempita,
Hanya ayah dan bunda yang menemaninya dalam diam.

========================================
Christnadi, November 2017, setelah perenungan yang muncul tidak disengaja saat menerjemahkan nyanyian "He is Born" bersama Yusica E. dan Masageng S. S.

Dalam pencarian untuk menemukan wajah Natal yang lain, yang kelihatannya tanpa semarak namun istimewa. Selamat menyongsong hari Natal!