Tampilkan postingan dengan label Short Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Short Story. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 April 2014

All Roads Lead to Rome (Pembahasan Surat Paulus kepada Jemaat di Roma)


Dikutip dari Majalah Shining Star Komisi Remaja GKI Gunung Sahari edisi Maret 2014
 

Pepatah mengatakan "banyak jalan menuju Roma," dan memang banyak jalan telah dibuka untuk memudahkan orang datang ke kota Roma, tetapi tetap saja jalan-jalan itu tidak dapat membawa sahabatku ke kota besar itu.

Perkenalkan, aku Gayus, sahabat Paulus. Aku sedang memikirkan sahabatku ini.
Apakah kau mengenalnya? Dia seorang penginjil yang hebat! Meski ia bukan salah satu dari dua belas rasul, namun perjumpaannya dengan Yesus di Damsyik telah mengubahkan dia dan membuatnya sama gigihnya dengan keduabelas rasul untuk memberitakan Injil.

Kini Paulus sedang menetap di rumahku. Diam-diam kuamati apa yang sedang ia lakukan di kamar yang kuberikan padanya untuk ia tempati. Ia masih termenung, seperti kemarin-kemarin. Terutama hari ini, sore yang teduh di rumahku yang sunyi ini membuatnya kembali termenung sambil memegang kalam di tangannya. Ia masih melanjutkan menulis surat itu, sambil memandang jauh ke luar jendela.

Surat itu, surat untuk jemaat di Roma. Ia tuliskan sejak ia tinggal di rumahku, dalam rentang waktu yang cukup lama, tidak seperti surat-surat lainnya. Padahal, jemaat di Roma bukanlah jemaat yang ia dirikan. Ia hanya mendengar kabar tentang jemaat di Roma dari sahabat-sahabatnya yang pernah ke sana. Konon katanya, jemaat di Roma sedang berada dalam tekanan, dalam ancaman bahaya. Meski demikian, jemaat Roma adalah jemaat yang cukup besar jika dibandingkan dengan jemaat di kota lain.

Kemarin malam, ketika Paulus sedang makan malam bersama keluargaku, ia menceritakan bagaimana surat untuk jemaat di Roma itu hampir rampung. Tinggal sedikit lagi ia menyelesaikan surat itu dan mengirimnya ke Roma. Ia juga bercerita bagaimana ia menuliskan beberapa pokok-pokok pemikiran teologisnya. Dalam surat itu ia menuliskan bagaimana Injil dipahami sebagai wujud pewartaan kuasa Allah yang menyelamatkan manusia dari dosa, lalu tentang kutuk dan pembenaran Allah, tentang umat Kristen Yahudi dan Non Yahudi yang seharusnya tidak dibedakan, serta tentang hidup dalam pengharapan.

Dengan semangat ia menjelaskan secara rinci kepadaku apa saja yang ia tuliskan dalam surat yang akan ia kirimkan ke Roma. Katanya, ia ingin jemaat di Roma yang besar itu memperoleh kekuatan baru dan semakin kuat sebagai gereja yang merupakan satu kesatuan tubuh Kristus. Melihat cara Paulus menjelaskan pemikiran-pemikiran teologisnya dalam surat itu, aku rasa Paulus juga ingin memperkenalkan dirinya, dengan harapan ia dapat diundang untuk mengajar di jemaat itu.

Ya, Paulus ingin sekali mengunjungi jemaat Roma. Tertulis dalam suratnya, "Aku berdoa, semoga dengan kehendak Allah aku akhirnya beroleh kesempatan untuk mengunjungi kamu. Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu, yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku."
Memang, ia sudah tidak lagi mempunyai pekerjaan di kota ini, jadi tidak ada alasan juga untuk kami menghalang-halangi Paulus untuk tidak pergi. Namun, Paulus terus mendapat kesulitan untuk segera pergi ke sana. Banyak hal yang harus ia kerjakan, termasuk menangani masalah-masalah yang ada di jemaat-jemaat yang ia dirikan.

Lihat, setelah dari tadi ia termenung menatap jauh ke luar jendela, kini ia menundukkan kepala, berdoa kepada Allah. Sahabatku ini terus menggumuli visinya untuk memberitakan Injil di Roma, di tengah-tengah jemaat Roma yang besar itu.

Aku, Gayus yakin bahwa suatu saat Tuhan sendiri yang akan mengantarkan sahabatku ini ke Roma, dengan satu jalan yang telah Tuhan siapkan, yang lebih mampu membawanya ke Roma dibandingkan banyak jalan menuju Roma yang manusia buat.

Berjuanglah sahabatku Paulus, Tuhan pasti menyertaimu ke mana pun engkau melangkah.


 
** Cerita ini merupakan narasi imajinatif yang hendak menceritakan tentang Paulus dan surat yang ia tulis untuk jemaat di Roma, dan benar, Tuhan sendiri yang membuka jalan bagi Paulus untuk sampai di Roma. Sekitar tahun 56 Masehi, Paulus di tangkap di Yerusalem karena membawa murid-muridnya yang adalah kaum Yunani, ia lalu dihadapkan kepada Feliks dan tahun 58M ia naik banding sehingga ia dibawa menghadap Festus. Ia juga bertemu Raja Agripa II dan terus mengajukan naik banding hingga ke tingkat Kaisar, oleh sebab itu ia harus di bawa ke Roma. Dalam keadaan terbelenggu, ia menjalani perjalanan laut yang sulit dan mengancam nyawa. Akhirnya, tahun 59 Masehi ia tiba di Roma, berjumpa dengan jemaat Roma, dan sambil menjalani proses pengadilan, ia terus mengabarkan Injil di Roma. Tahun 64 Masehi, Paulus mati sebagai martir di Roma, di bawah kekejaman Kaisar Nero.



==========================================================
-Christnadi, 2013 untuk Rubrik Star Bible majalah Shining Star Komisi Remaja GKI Gunung Sahari, Maret 2014

Senin, 30 Desember 2013

Dari Titus untuk Sahabat (Pembahasan Kitab 1-2 Korintus)

Dikutip dari Majalah Shining Star Komisi Remaja GKI Gunung Sahari edisi Januari 2014



Sahabat,
Terima kasih banyak telah mengijinkan aku menumpang di tempatmu. Aku harus buru-buru berangkat melanjutkan perjalananku, maaf aku tidak sempat berpamitan denganmu karena kau masih tidur.

Aku akan kembali ke Korintus, teman! Kau tahu, betapa antusiasnya aku untuk kembali melayani di sana, sama sepertimu yang begitu tertarik bercakap-cakap denganku tentang jemaat Korintus ini. Nanti, jika aku sempat singgah kembali di tempatmu, akan kuceritakan kepadamu banyak hal tentang jemaat ini.

Oh iya teman, apakah kau masih ingat, ketika aku singgah pertama kali di tempatmu, kuceritakan tentang pergumulan jemaat ini menghadapi penyembahan-penyembahan berhala yang memakai tubuh dan seksualitas sebagai persembahan kepada dewa-dewa mereka? Maaf aku belum sempat menceritakan kelanjutannya kemarin. Jadi, setelah Paulus menjelaskannya panjang lebar dalam suratnya kepada jemaat Korintus yang pertama, mereka kini sudah mengerti konsep yang benar tentang kesucian hidup. Paulus mengingatkan jemaat Korintus bagaimana mereka harus memuliakan Allah dengan tubuh mereka dan jangan berbuat cabul.

Selain itu, banyak pengajaran yang Paulus sampaikan dalam suratnya yang pertama. Tentang hidup sebagai satu persekutuan Kristen, tentang kebangkitan orang mati, bahkan tentang kasih! Paulus memberitahukan apakah kasih itu, dan bahkan diantara iman, pengharapan, dan kasih, yang terbesar diantaranya adalah kasih.

Satu hal lagi, sama sepertimu yang berkomentar bahwa jemaat Korintus adalah jemaat yang memiliki banyak sekali karunia, Paulus juga melihat jemaat Korintus seperti itu. Oleh sebab itu, dalam surat yang sama ia juga mengingatkan tentang karunia-karunia yang dimiliki oleh jemaat Korintus agar tidak disalahgunakan atau dipergunakan dengan tidak tertib. Ah, kurasa suatu saat nanti kau harus membaca surat ini kawan!

Dan kini kawan, aku berangkat sambil membawa perkamen surat kedua untuk jemaat di Korintus. Ya, seperti yang kukatakan semalam, aku membawanya dengan gentar, membayangkan apa isinya dan apa respon jemaat Korintus nanti. Kudengar, surat Paulus yang kedua ini menyampaikan kesedihan Paulus yang luar biasa atas fitnah dan kebohongan terhadap Paulus dan terhadap Yesus yang dimunculkan oleh guru-guru palsu yang membuat jemaat Korintus menjadi terombang-ambing. Aku berharap, semoga mereka mau bertobat, kawan, dan berbalik kepada pengajaran yang benar tentang Yesus.

Selain itu, kurasa dalam suratnya yang kedua ini, Paulus juga memberi nasihat agar mereka terus membantu pembangunan jemaat di Yerusalem. Waktu bertemu di Makedonia, aku telah melaporkan kabar jemaat Korintus kepadanya, termasuk bagaimana mereka mau mengumpulkan sumbangan untuk Yerusalem. Semoga jemaat Korintus dapat merespon surat kedua ini dengan terus menjadi contoh dalam berbuat baik.

Baiklah kawan, aku sudahi dulu suratku ini. Aku harus segera berangkat, aku sudah tidak sabar kembali berada di tengah-tengah jemaat di Korintus! Sekali lagi terima kasih sudah mengijinkan aku menumpang kembali di rumahmu. Aku berdoa, semoga suatu saat nanti aku bisa singgah kembali di rumahmu dan membawa kabar baik tentang jemaat di Korintus. Salam untuk istrimu dan kedua putrimu, kasih karunia dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu sekalian!

Dari sahabatmu,

Titus.

==========================================================
-Christnadi, 2013 untuk Rubrik Star Bible majalah Shining Star Komisi Remaja GKI Gunung Sahari, Januari 2014

Sabtu, 05 Oktober 2013

Aku Tak Percaya Apa yang Kulihat


Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat...
Dalam suatu malam yang gelap, dengan angin dingin menyusuri sela kota,
Aku melihat sesosok manusia di emperan sebuah toko bahan bangunan..

Ya, seorang manusia, lelaki separuh baya, bertubuh kurus, berkulit hitam legam, terduduk menyender pada sebuah dinding.
Heran bagiku, bagaimana lelaki itu bisa masuk? Karena toko bahan bangunan itu memiliki pagar yang tinggi, dengan kawat yang membentuk jaring kotak-kotak kecil menutup rapat setiap jengkal pagar tersebut, dan pintu gerbangnya sudah terkunci..
Mataku menangkap sebuah pintu kecil yang terbuka di bagian bawah pagar, hampir sebesar kotak kardus TV, seperti untuk hewan keluar masuk..
Ah.. sepertinya lelaki itu masuk melalui pintu kecil itu.

Setelah jawaban ditemukan, kemudian aku memperhatikan lelaki itu..
Termenung menghadap ke depan..
Terduduk dengan kaki terlipat dan tangan melingkar di kedua kaki..
Terdiam.. diringi gemeretak tubuh karena dingin..
Tanpa ekspresi, hanya terus terjaga dan melihat ke depan..

Aku tak percaya apa yang kulihat...

Aku tak percaya seorang lelaki, yang juga adalah manusia,
berada di depan sebuah toko milik manusia lain,
terduduk dalam hening dan dingin yang menusuk,
menatap ke depan seakan mencari sebuah harapan..

Aku tak percaya seorang aku, yang juga adalah manusia,
berjalan di depan sebuah toko milik manusia lain,
melangkah perlahan dalam hati yang hening dan dingin,
menatap ke arah lelaki yang memasuki celah kecil,
mendapat persinggahan,
mencari harapan..

Aku tak percaya apa yang kulihat...
Dan aku tak percaya bahwa tidak ada satu hal pun yang dapat aku lakukan untuknya..
Dia terduduk gemeretak dalam dunianya yang dingin,
sementara aku berjalan lurus terus menyusuri jalan perlahan..
Seakan dunia kami berbeda..
Seakan dunia kami hanya bersinggungan, hanya dapat saling mengintip, tanpa saling melintas..

Aku tak percaya kau tak pernah mengalaminya...
Dalam suatu saat dalam suatu ruang, kau tetap berjalan di tepi batas dunia..
Ya, di tepi batas dua dunia yang berbeda, yang mengizinkan kau mengintip tanpa melintas..
 Dan apa kau percaya apa yang kulihat?
Bahwa dua dunia ini memiliki dinding yang begitu tebal,
Yang membuat, aku, kau, kita, tak dapat melintasinya?

Apakah kau percaya dengan apa yang kau lihat?
Kalau tidak percaya, melintaslah! :)

==============================================================
-Christnadi, suatu malam yang dingin di September 2013

Sabtu, 26 Januari 2013

Kesuksesan Berbanding Lurus dengan Kesendirian


Tulisan ini merupakan refleksi dan analisa singkat dari kejadian yang pernah kualami. Suatu saat, aku bersama ibuku berjumpa dengan seorang bapak yang sudah cukup berumur. Ia bekerja sebagai komisaris utama di perusahaannya sendiri. Di rumahnya yang cukup mewah itu, ia hanya tinggal berdua dengan istrinya yang usianya juga tak jauh beda. Aku bersama ibuku kemudian menyusuri sebuah ruang dengan dinding penuh dengan bingkai foto dan macam-macam bentuk penghargaan. Lebih dominan terlihat, foto-foto kedua anak perempuannya.

"Ini foto-foto kami sekeluarga," tiba-tiba ia menjelaskan, "anak kami ada dua, yang satu sekarang kerja di Bali, yang lebih muda kuliah di Australia."

Aku dan ibuku berdecak kagum. Orang tuanya sangat berhasil. Selain sukses dalam pekerjaannya sendiri, mereka berhasil membesarkan anak mereka hingga mencapai kesuksesan juga. Orang tua mana yang tidak bangga melihat anaknya sukses di kota lain atau negeri lain.

"Yah, jadilah kami hanya tinggal berdua di sini..," kata Bapak itu sambil tersenyum.

Benar saja, aku kemudian memperhatikan sekeliling, rumah besar ini kemudian terasa kosong. Komplek rumah yang tenang menambah kesunyian rumah itu. Sebelumnya, kami sudah bertemu istri dari bapak itu. Ia sedang duduk santai di depan televisi menyaksikan tayangan yang tak diperhatikannya dengan serius. Bapak itu kemudian melanjutkan cerita-ceritanya dengan bangga, menceritakan keluarganya dan keberhasilan yang ia capai.

Saat itulah aku menghentikan waktuku sejenak.
Aku menatap ke sudut-sudut kosong ruangan itu, dan kursi-kursi empuk yang jarang diduduki.
Aku menatap wajah-wajah yang selalu terpajang manis di "dinding kebanggaan"-nya itu, meski aku kurang yakin apakah pemilik wajah-wajah manis itu sering juga berada dalam ruangan ini.

Pertanyaan muncul dalam benakku, "Apakah ini yang orang sebut dengan 'Keberhasilan'?"
Semua orang setuju, tak ada keberhasilan yang lebih membahagiakan selain melihat anak-anaknya sukses, tak hanya di dalam kota, namun di lain tempat, luar kota, luar negeri. Namun, hal ini ternyata memiliki harga yang harus dibayar. Kesendirian mau tidak mau harus diterima oleh mereka berdua. Anak-anak yang dulu mungkin sering ditinggalkan karena orang tua sibuk bekerja, kini malah berbalik meninggalkan mereka di masa tuanya, untuk hal yang sama, mencapai kesuksesan.

Lalu, bagaimana jika aku tengok beberapa kisah lain, tentang kesuksesan yang lain.
Seorang ayah yang bekerja keras untuk membayar sebuah kesuksesan, akhirnya tanpa sadar meninggalkan seorang anak bertanya pada ibunya, "Papa kok belum pulang, Ma?"
Ah, sepertinya aku ingat anak yang lain yang menangis karena diomeli pengasuhnya ketika ditinggal oleh orang tuanya yang bekerja.
Oh iya, tak lupa juga seorang nenek yang sendirian di rumahnya, duduk di tepi ranjangnya. Ia memegang kitab suci dan berdoa, mendoakan anak-anaknya yang sedang berada di kota yang namanya asing dan sulit diucapakannya dalam doanya.

Jadi, inikah yang disebutkan oleh banyak orang tentang apa itu "Kesuksesan"?
Inikah yang harus kukenal tentang "Keberhasilan"?
Ayolah, katakan padaku bahwa pikiranku ini salah!
Ayolah, tunjukkan padaku keberhasilan tanpa memenjarakan insan-insan dalam kesendirian!

...

Ataukah memang harus kubuat rumus,
bahwa KESUKSESAN memang berbanding lurus dengan KESENDIRIAN?

======================================================
  -Christnadi P. Hendartha, setelah banjir besar pada Januari 2013

Minggu, 22 April 2012

The Game of Life

Suatu saat, seorang anak muda mengikuti ibadah remaja di gerejanya. Ibadah itu berjalan seperti biasa hingga tiba saatnya untuk pengakuan dosa.

Sang Pelayan Liturgis berkata, "Saya ingin mengajak kita semua merenungkan segala dosa pelanggaran kita melalui sebuah permainan sederhana yang saya beri nama, The Game of Life!"

Semua yang hadir mulai tertarik dengan kata-kata Pelayan Liturgis ini, mereka penasaran dengan permainan yang ditawarkan.

"Sekarang buka kesepuluh jari kalian," Sang Pelayan Liturgis juga ikut mengunjukkan kesepuluh jarinya.
"Jari kalian menunjukkan skor yang kalian miliki. Di permainan ini, kalian hanya perlu mempertahankan skor kalian sebanyak mungkin hingga akhir permainan ini. Syarat utamanya adalah: KEJUJURAN."

Anak muda itu terheran-heran, ia memperhatikan teman-teman di sekelilingnya. Teman-teman di sebelah kiri dan kanannya sudah membuka telapak tangannya, menunjukkan kesepuluh jarinya. Meski ragu, anak muda itu perlahan ikut membuka telapak tangannya.

Pelayan Liturgis terus melanjutkan kata-katanya.
"Baiklah, kita mulai permainan ini. Saya sudah memiliki 15 daftar perbuatan yang kita lakukan dalam hidup sehari-hari. Nanti saya akan menyebutkannya satu per satu dan tugas kalian adalah menutup satu jari untuk setiap perbuatan yang pernah atau masih kalian lakukan, mudah bukan?"

Anak muda itu terkejut mendengar aturan main yang disebutkan, sementara itu jemaat hening, bersiap mendengar daftar itu dibacakan.

"..."

Pelayan Liturgis kemudian mulai membacakan satu per satu daftar perbuatan yang ia miliki.

"Berbohong,..."

Anak muda itu terkejut, itu yang sering dilakukannya tiap hari. Ia kemudian menurunkan salah satu jarinya.

"..menyontek,..."

Anak muda itu beberapa kali pernah melakukannya. Satu jari anak muda itu diturunkan lagi.

"..iri hati,..."

Ia diam saja.

"..egois,..."

Ya, dia yakin itu sifatnya, satu jari lagi diturunkan.

"..pikiran kotor,..."

Ia terkejut. Ya, isi pikirannya kotor. Satu jari lagi terpaksa ia turunkan.

"..marah-marah,..."

Sepertinya ia merasa tidak begitu marah-marah.

"..menyakiti diri sendiri,..."

Dia tersadar, itu memang dirinya. Dia cepat-cepat menurunkan satu jarinya lagi.

"..kasar,..."

Ia diam saja.

"..malas,..."

Satu jarinya dengan cepat diturunkan.

"..dendam,..."

Ia terkejut, ia memang menyimpan dendam kepada ayahnya di dalam hatinya.

"Bagaimana? Berapa jari yang tersisa?" tanya Sang Pelayan Liturgis. Anak muda itu gemetar, ia melihat jari-jarinya yang masih berdiri tegak, skor di tangannya tinggal 3.
Pelayan Liturgis itu lalu melanjutkan kata-katanya lagi,

"Omong kotor,..."

Ya, memang itu yang sering keluar dari mulut anak muda itu, ia kembali menurunkan jarinya.

"..bantah orang tua,..."

Ia terkejut, ia ingat kemarin baru saja berteriak-teriak melawan ibunya hingga ibunya menangis karenanya. Satu jari lagi ia turunkan.

"..mencuri,..."

Belum pernah sepertinya. Ia diam saja.

"..mabuk-mabukan,..."

Hampir, tapi belum. Ia diam saja.

"..dan yang terakhir... pornografi."

Anak muda itu tertunduk lemas, penuh rasa malu dan hina, ia terpaksa menurunkan jari tangannya yang terakhir. Kini habis sudah 'skor kehidupannya'. Dosa-dosanya membuat nilai kehidupannya nol, tak bersisa.

Ia gemetar, terisak, tak dapat berkata-kata lagi. Kemegahannya, keangkuhannya, runtuh sudah.

Sang Pelayan Liturgis terdiam sejenak, ia kemudian berkata, "Sekarang buka tangan kalian kembali, dan balikkan telapak tangan kalian. Perhatikan telapak tangan kalian baik-baik!"

Anak itu membuka tangannya, dan menatap tangannya yang berkeringat dan gemetar itu.

"Dosa dan pelanggaran yang kita lakukan telah membuat diri kita tak ada nilainya lagi, tapi dulu, Seseorang telah mati untuk kita, membuat tanganNya berlubang supaya tangan kita saat ini tetap utuh, dan mati di kayu salib untuk menebus dosa kita dan menyelamatkan kita dari maut, dialah Tuhan Yesus Kristus, Sang Juruselamat," Pelayan Liturgis melanjutkan kata-katanya.

Anak muda itu memperhatikan lekat-lekat telapak tangannya yang bersih, dan dengan penuh penyesalan ia membayangkan seandainya ada sebuah lubang yang menganga di telapak tangannya, seperti yang ada pada Tuhan Yesus.

"Dan lihat, sekarang kita memiliki skor yang sempurna,..."

Anak muda itu terkejut karena menyadari kesepuluh jarinya telah terbuka kembali.

"Skor yang sempurna ini ada bukan karena kita yang mampu mempertahankan dan membuatnya jadi sempurna, namun karna Tuhan Yesus menganugerahkan keselamatan yang menyempurnakan diri kita."

Air mata perlahan turun membasahi pipi anak muda ini, ia kemudian tertunduk penuh penyesalan sekaligus syukur atas pengampunan yang Tuhan Yesus Kristus berikan...

...

Teman, saat ini anugerah keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus juga tersedia bagimu. Sudahkah kau mengakui setiap dosa dan kesalahan yang telah kau perbuat? Sudahkah kau menerima Tuhan Yesus dalam hatimu, dan mengakui Dia dengan mulutmu bahwa Dialah Tuhan dan Juruselamat pribadimu?

Marilah kita berdoa, "Tuhan Yesus, terima kasih Tuhan saat ini aku disadarkan kembali atas pengorbananMu di kayu salib, tersiksa dan mati untuk menebus setiap dosa dan pelanggaran yang telah kubuat, dan bangkit untuk memberikanku hidup yang baru. Oleh sebab itu, aku mau mengakui dan mohon ampun atas setiap dosa-dosaku, dan menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadiku. Masuklah dalam hatiku, berkuasalah penuh atas hidupku. Terima kasih Tuhan. Dalam Nama Tuhan Yesus aku berdoa, Amin.

===============================================================
-Christnadi, 22-April-2012
Bisa teman-teman praktekkan untuk sesi pengakuan dosa saat menjadi pelayan liturgis di gereja teman-teman masing-masing :) Tuhan Yesus memberkati!

Kamis, 19 Agustus 2010

POHON, DAUN, ANGIN

"DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?"


POHON

Orang-orang memanggilku "Pohon" karena aku sangat baik dalam menggambar pohon. Aku selalu menggunakan gambar pohon pada sisi kanan sebagai trademark pada semua lukisanku. Aku telah berpacaran sebanyak 5 kali, tapi hanya ada satu wanita yang benar-benar sangat kucintai.

Dia tidak cantik, tidak memiliki tubuh seksi. Tapi, dia sangat peduli dengan orang lain. Gayanya yang sederhana dan apa adanya, kemandiriannya, kepandaiannya, dan kekuatannya. Aku menyukainya, sangat!


Satu-satunya alasanku tidak mengajaknya kencan karena, aku merasa dia sangat biasa dan tidak serasi untukku. Aku takut, jika kami bersama, semua perasaan yang indah ini akan hilang. Aku takut kalau gosip-gosip yang ada akan menyakitinya. Karena itu, aku memilihnya untuk hanya menjadi "sahabat". Menjadi sahabatnya, aku akan bisa 'memiliki'nya tiada batasnya. Tidak harus memberikan semuanya hanya untuk dia.


Selama ini dia selalu menemaniku dalam berbagai kesempatan, sebagai sahabat. Dia tahu aku mengejar gadis-gadis lain. Ketika dia melihatku mencium pacarku yang kedua, dia hanya tersenyum dengan berwajah merah. "Lanjutkan saja," katanya, setelah itu pergi meninggalkan kami.


Esoknya, matanya bengkak dan merah. Aku sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkannya menangis. Aku pun berusaha membuatnya tertawa dengan mengajaknya bercanda sepanjang hari.


Kali lainnya, di sebuah sudut ruang dia menangis. Hampir 1 jam kulihat dia menangis. Aku paham betul apa penyebabnya. Pacarku yang keempat tidak menyukainya. Mereka berdua perang dingin. Aku tahu bukan sifatnya untuk memulai perang dingin, tapi aku masih tetap bersama pacarku. Aku berteriak padanya dan ia terkejut, matanya penuh dengan air mata kesedihan. Aku tidak memikirkan perasaannya dan pergi meninggalkannya bersama pacarku.


Esoknya dia masih bisa tertawa dan bercanda denganku seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Aku tahu dia sangat sedih dan kecewa tapi dia tidak tahu bahwa sakit hatiku sama buruknya dengan dia. Aku juga sedih.


Ketika aku putus dengan pacarku yang kelima, aku mengajaknya pergi. Setelah kencan satu hari itu, aku mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya. Dia mengatakan bahwa kebetulan sekali bahwa dia juga ingin mengatakan sesuatu padaku.


Aku bercerita bahwa aku telah memutuskan hubungan dengan pacarku. Sementara, dia berkata bahwa dia sedang memulai suatu hubungan dengan seseorang.


Aku tahu pria itu. Dia sering mengejarnya selama ini. Pria yang baik, penuh energi dan menarik. Aku tak bisa memperlihatkan betapa sakit hatiku. Aku hanya tersenyum dan mengucapkan selamat padanya. Ketika sampai di rumah, sakit hatiku bertambah kuat, dan aku tidak dapat menahannya. Seperti ada batu yang sangat berat di dadaku. Aku tak bisa bernapas dan ingin berteriak. Dan, aku menangis!


=================================================

"DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?"

DAUN

Aku suka mengoleksi daun-daun, karena aku merasa bahwa daun membutuhkan banyak kekuatan untuk bisa meninggalkan pohon yang selama ini ditinggali.

Selama ini aku dekat dengan seorang pria, bukan sebagai pacar tapi "sahabat". Ketika dia mempunyai pacar untuk yang pertama kalinya, aku mempelajari sebuah perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya: cemburu.

Mereka hanya bersama selama 2 bulan. Ketika mereka putus, aku menyembunyikan perasaan yang luar biasa gembiranya. Aku menyukainya dan aku juga tahu bahwa dia juga menyukaiku, tapi mengapa dia tidak pernah mengatakannya? Jika dia mencintaiku, mengapa dia tidak memulainya dahulu untuk melangkah?

Waktu terus berjalan, hatiku semakin sedih dan kecewa. Aku mulai mengira bahwa ini adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Tapi, mengapa dia memperlakukanku lebih dari sekadar seorang teman?

Menyukai seseorang sangat menyusahkan hati. Aku tahu kesukaannya, kebiasaannya, tapi perasaannya kepadaku tidak pernah bisa kupahami. Kadang aku merasa bodoh, karena aku juga berkeras tidak mau mengungkapkan perasaanku. Selain alasan itu, aku mau tetap di sampingnya, memberinya perhatian, menemani, dan mencintainya. Berharap suatu hari nanti dia akan datang dan mencintaiku.

Seorang pria mengejarku. Setiap hari dia mengejarku tanpa lelah. Segala daya upaya telah dilakukan walau seringkali ada penolakan dariku. Aku mulai berpikir, mungkinkah aku bisa memberikan sebuah ruang kecil di hatiku untuknya?

Dia seperti angin yang hangat dan lembut, mencoba meniup daun untuk terbang dari pohon. Aku tahu Angin akan membawa pergi Daun yang lusuh jauh dan ke tempat yang lebih baik. Meski berat, akhirnya aku meninggalkan Pohon. Tapi Pohon hanya tersenyum dan tidak memintaku untuk tinggal. Aku sangat sedih memandangnya tersenyum ke arahku.

=================================================

"DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?"


ANGIN

Aku menyukai seorang gadis bernama Daun. Tapi, dia sangat bergantung pada Pohon sehingga aku harus menjadi 'Angin' yang kuat agar bisa meniupnya hingga terbang jauh dari pohon.

Aku selalu memperhatikan Daun duduk sendirian atau bersama teman-temannya, memerhatikan Pohon. Ketika Pohon berbicara dengan gadis-gadis, ada cemburu di matanya. Ketika Pohon melihat ke arah Daun, ada senyum di matanya.Memperhatik annya menjadi kebiasaanku, seperti Daun yang suka melihat Pohon. Satu hari saja tak kulihat dia, aku merasa sangat kehilangan.

Aku melangkah dan tersenyum padanya. Kuambil secarik kertas, kutulisi dan kuberikan padanya. Dia sangat kaget. Dia melihat ke arahku, tersenyum, dan menerima kertas dariku. Esoknya, dia datang menghampiriku dan memberikan kembali kertas itu. Hati Daun sangat kuat dan Angin tidak bisa meniupnya pergi. Daun tidak mau meninggalkan Pohon.

Aku kembali menghampirinya dengan kata-kata yang sama. Meski sangat pelan, akhirnya dia mulai membuka dirinya dan menerima kehadiranku. Aku tahu orang yang dia cintai bukan aku, tapi aku akan berusaha agar suatu hari dia menyukaiku. Aku telah mengucapkan kata Cinta tidak kurang dari 20 kali kepadanya. Hampir setiap kali dia mengalihkan pembicaraan, tapi aku tidak menyerah. Keputusanku bulat, aku ingin memilikinya.

Suatu hari, dia bilang bahwa dia memberikan kesempatan untukku. Kuletakkan telpon, melompat, berlari seribu langkah ke rumahnya. Dia membuka pintu bagiku. Kupeluk erat-erat tubuhnya. Akhirnya aku bisa membuat daun meninggalkan pohon dan berjanji akan membawanya terbang melihat dunia.


=================================================

Jumat, 24 April 2009

Unusual Day...

"A long time ago..."

Huh.. haruskah kuawali kisah hari yang tidak biasa ini dengan kata-kata klise seperti itu?
Atau perlu kukatakan...

"Pada suatu hari..."

Nah itu berarti kisahku ini dimulai pada suatu hari. Hari pun dimulai pada suatu pagi, dan suatu pagi dimulai bila...

"kRiiiingg..."

Perlahan kubuka kelopak mataku... Dengan usaha keras kuraih jam wekerku. Setengah enam pagi. Seperti biasa. Perlukah kaki ini melompat? Kurasa tak perlu. Cepat-cepat ku sadarkan diri ini, ku bangunkan tubuh ini.
Yup, saatnya memulai hari yang amat sangat tidak spesial ini.

Waktu terus bergulir, tak terasa sudah menunjukkan jam enam pagi. Heran, padahal tidak banyak yang telah ku lakukan tapi waktu amat cepat berputar.
Okay, no more wasting time!

To Do List pagi ini:
Mandi, cuci gigi (hah?), pakai seragam, siapkan backpack, sarapan, meluncur ke sekolah...
Waktu tersisa tinggal sekitar satu jam lagi. Cepat-cepat-cepat!

Saatnya mandi, saatnya bersih-bersih. Kata orang, setiap hari pasti ada yang spesial, jadi mungkin mandi pagi kali ini spesial. I wish bukan mandi pagi ini aja yang spesial! Oh.. semoga...
Tubuh sudah bersih dengan sabun anti septik, rambut sudah dicuci bersih, dan "ritual" mandi pagi dengan ini saya resmikan telah selesai!

Wew.. betapa lebaynya aku...

Ksatria tangguh ini udah siap menjalani harinya, dan...
Ah...! Tidak...!
Aku telah melanggar waktu untuk mandi yang telah kujatahkan! Tak terasa waktu tersisa hanya tinggal sekitar 35 menit!

Cepat-cepat-cepat
Sikat gigi, berseragam, menyiapkan backpack...
Waktu tersisa tinggal 30 menit, 20 menit, 10 menit...
Time to take off...

Ksatria tak akan menyerah!
drap-drap-drap langkah kaki ku percepat jadi lari...
Ada lubang di jalan, kuhindari. Ada kucing melintas, ku lompati. Ada mobil ngebut mendekat, ku lariiii....
Astaga...! Nyaris saja ku tertabrak!

Berlari mengarah pada matahari pagi, sambil teru menengok ke jam tangan.
Lima menit!!!

Tahukah kamu, pelajar SMA yang sedang terlambat ke sekolah berlari lebih cepat dari cheetah?
Hahaha... Terlalu hiperbola memang, tapi andai kau melihatku berlari saat terlambat, kecepatan berlariku sebanding dengan kecepatan lari maling jemuran + banci yang dikejar trantib + orang yang baru melihat hantu... *bigsmile*

Gerbang sekolah nyaris ditutup. Cepat-cepat aku terobos. Kepala sekolahku "yang rajin" mengawasi murid-muridnya yang terlambat sudah geleng-geleng melihatku.
"Teeeeeet......!" lonceng sekolahku atau dapat kusebut dengan sirene pemadam kebakaran (karena memang bunyinya mirip) berbunyi tanda bahwa aku secara de facto belum terlambat. Akhirnya aku dapat tersenyum lebar. Ku lihat kepala sekolahku, ku menunduk tanda hormat lalu sambil setengah berlari aku masuk kelas.

Baru masuk aku langsung diberi "sarapan pagi" logaritma dan trigonometri lengkap dengan integral oleh guru matematikaku. What a day!
Umm... tampaknya tak perlu aku ceritakan apa yang kualami di sekolah. Tak ada yang spesial, semua seperti biasa... Kali ini aku sangat mengharapkan waktu untuk berjalan cepat. Kalau bisa, kupaksa waktu untuk berlari!

"Teeeeeet......!" yeah, satu kali...
"Teeeeeet......!" dua kali...

"..." diriku hening menanti...

"Teeeeeet......!" tiga kaliiii!!! Akhirnya saudara-saudari, waktu pulang telah tibaaa!!
Sirene tiga kali menandakan Kegiatan Belajar Mengajar atau yang lebih dikenal dengan KBM telah selesai. Para murid dipersilahkan pulang, mohon periksa kembali barang bawaan Anda, jangan sampai ada yang tertinggal...

People say, Datang Paling Awal Pulang Paling Akhir adalah ciri pelajar ato pekerja teladan. But, Datang Paling Akhir dan Pulang Paling Awal adalah ciri khas dari diriku!!! Hahahaha... :)

Pulanglah aku cepat-cepat. Aku berpikir, waktu amat sangat berharga. Tak mau kejadian tadi pagi terulang kembali, waktu terlewatkan begitu saja tanpa melakukan sesuatu yang berarti! Huh!

To Do List Siang hingga Sore:
Lunch, buat tugas A-Z, lalu mandi sore, de el el..

Setelah kusapa nenekku (yang menemaniku di rumah), buru-buru kuambil jatah makan siangku + ekstra minuman segar.. Dengan sedikit tersedak-sedak aku menghabiskan makan siangku. Tak lama setelah berbincang hangat dengan nenekku, aku langsung memburu tugasku. Ku kerjakan beberapa hal penting di rumah lalu ku cari data lewat internet di warnet. Waktu terus berputar, tak terasa sudah dua jam aku di warnet. Waktu sudah amat sore. Dengan terburu-buru aku pulang.

Semua rutinitas ini betul-betul menyita habis waktuku!
Sesampainya di rumah, kuparkirkan motorku, lalu aku hendak menutup pintu gerbang yang tadi kubuka.
Ingin rasanya kupunya remote untuk menutup gerbang dengan otomatis, tak ada waktu, tak ada waktu untuk hal-hal seperti ini!

Tanganku sudah meraih gerendel gerbang, lalu aku menatap ke depan rumahku...
Perlu kamu ketahui, tepat di depan rumahku ada taman milik komplek yang ditumbuhi oleh bunga-bunga indah dan pepohonan serta rerumputan hijau.

Aku tertegun sejenak, menatap senja yang teduh dan hamparan bunga dan rumput di taman.
Entah mengapa kaki ini cepat-cepat melangkah, membawa diriku ke taman itu. Ya, sudah tiga tahun aku tinggal di rumah ini, namun amat jarang sekali aku menyempatkan diri menikmati desiran angin sejuk di taman itu.
Sore ini, taman ini sepi, belum ada yang singgah di sini. Aku baru menyadari kalau taman ini begitu indah, aku baru menyadari kalau aku benar-benar sudah terlalu disibukkan oleh rutinitas hidupku.

Aku terpesona melihat alam ciptaanNya ini, langit yang menyejukkan hati, taman yang indah, binatang kecil yang berkeliaran bebas...
Sejenak aku terlupa akan rutinitasku, sejenak aku merasa diriku hanyut dalam buaian keindahan. Sejenak aku merasakan sentuhan kasihNya di hatiku. Aku menyadarinya. Andai aku dapat menahan waktu untuk berhenti... Sayang sekali hal itu tidak dapat ku lakukan.
Yang dapat ku lakukan hanyalah...

Menahan waktu bergerak lambat...

---

Kisah ini hanya merupakan kisah fiksi namun peristiwa yang hampir mirip pernah terjadi kepadaku. Saat aku di taman itu, ku syairkan perasaanku dalam barisan kata-kata dan ku beri judul "Ketika Waktu Berjalan Cepat"