Raja ini tercenung berhadapan kolom kosong
Kala mengisi formulir kehidupan
Satu kolom yang bertuliskan “pekerjaan”
Mau dituliskan: Raja
Tapi kolom itu menolak
Kolom itu tidak bisa
ditundukkan dengan janji palsu
ditaklukkan dengan ancaman
disuap dengan bagi-bagi jatah upeti
Dahi Raja ini terus mengulang tanya,
“Kalau Raja bukan kerja,
Apa pekerjaanku?”
Mau ditulis
“Pelindung”, tapi merampok rakyat sendiri
“Penjaga”, tapi buka pintu malapetaka
“Pemimpin”, tapi rakyatnya tercerai berai
Mungkin,
“Penggembala”, tapi kok cari kambing hitam
“Pengampun”, tapi ya bobroknya minta ampun
“Penolong”, tapi seringnya bikin rakyat menjerit “tolong.. tolong..!”
Formulir yang kritis itu dirobek
Ia terlalu berisik
Tidak seperti mahkota dan singgasana
Yang diam dan menerima saja
––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––
– Christnadi, sebuah puisi yang disertakan dalam khotbah untuk Kebaktian Minggu Kristus Raja, 23 November 2025, menjadi kontras dari puisi "Raja Itu".